Senin, 27 April 2015

PENGERTIAN TEOLOGI KRISTEN DAN ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM



DEFINISI TEOLOGI

Teologi berasal dari bahasa yunani, theos, "Allah, Tuhan", dan , logia, "kata-kata," "ucapan," atau "wacana") adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. ( sumber: wikipedia )                                             
Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani klasik, tetapi lambat laun memperoleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis Kristen. Karena itu, penggunaan kata ini, khususnya di Barat, mempunyai latar belakang Kristen. Namun demikian, di masa kini istilah ini dapat digunakan untuk wacana yang berdasarkan nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama Kristen sendiri disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya.
Pada Abad Pertengahan, teologi merupakan subyek utama di sekolah-sekolah universitas dan biasa disebut sebagai "The Queen of the Sciences". Dalam hal ini ilmu filsafat merupakan dasar yang membantu pemikiran dalam teologi.

( Sejarah istilahnya )
Kata "Teologi" diambil dari bahasa Yunani Helenis, namun demikian maknanya telah berubah jauh melalui penggunaannya di dalam pemikiran Kristen di Eropa sepanjang Abad Pertengahan dan Zaman Pencerahan.
  • Istilah theologia digunakan dalam literatur Yunani Klasik, dengan makna "wacana tentang para dewa atau kosmologi" (lihat Lidell dan Scott Greek-English Lexicon untuk rujukannya).
  • Aristoteles membagi filsafat teoretis ke dalam mathematice, phusike dan theologike. Yang dimaksud dengan theologike oleh Aristoteles kira-kira sepadan dengan metafisika, yang bagi Aristoteles mencakup pembahasan mengenai hakikat yang ilahi. Sejak itu istilah ini telah diambil oleh berbagai tradisi keagamaan Timur maupun Barat.
  • Dengan meminjam dari sumber-sumber Yunani, penulis Latin Varro membedakan tiga bentuk wacana ini: mitis (menyangkut mitos-mitos tentang para dewata Yunani), rasional (analisis filosofis mengenai para dewata dan kosmologi) dan sipil (menyangkut ritus dan tugas-tugas keagamaan di tengah masyarakat).
  • Para penulis Kristen, yang bekerja dengan kerangka Helenistik, mulai menggunakan istilah ini untuk menggambarkan studi mereka. Kata ini muncul sekali dalam beberapa naskah Alkitab, dalam judul Kitab Wahyu: apokalupsis ioannou tou theologou, "penyataan kepada Yohanes sang theologos". Namun demikian, kata ini merujuk bukan kepada Yohanes sang "teolog" dalam pengertian bahasa kita sekarang, melainkan – dengan menggunakan arti akar kata logos dalam arti yang sedikit berbeda, dan di sini tidak dimaksudkan sebagai "wacana rasional" melainkan dalam arti "firman" atau "pesan". Dengan demikian, sang "theologos" di sini dimaksudkan sebagai orang yang menyampaikan firman Allah - logoi tou theou.


Pendapat Tentang Definisi Teologi
  • Teologi adalah "iman yang mencari pengertian (fides quaerens intellectum)." - Anselmus dari Canterbury
  • "Teologi adalah upaya untuk menjelaskan hal-hal yang tidak diketahui dalam pengertian-pengertian dari mereka yang tidak patut mengetahuinya." - H. L. Mencken
  • "Teologi yang otentik tidak akan mengizinkan orang terobsesi dengan dirinya sendiri." - Thomas F. Torrance dalam Reality and Scientific Theology
  • "Teologi memberitakan bukan hanya apa yang dikatakan oleh Alkitab, melainkan juga apa maknanya." - J. Kenneth Grider dalam A Wesleyan-Holiness Theology (Kansas City: Beacon Hill, 1994), hlm. 19.
  • "Saya tidak membutuhkan orang bodoh yang tidak menyukai musik, karena musik adalah pemberian Allah. Musik dapat mengusir Iblis dan membuat orang berbahagia, dan dengan demikian mereka melupakan segala kemarahan, ketidaksetiaan, kesombongan, dan sejenisnya. Setelah teologi, saya menempatkan musik pada tempat yang tertinggi dan memberikan kepadanya keagungan yang tertinggi." — Martin Luther, dikutip dalam Martin Marty, Martin Luther, 2004, hlm. 114.
  • Adapun persfektif Islam yang dimaksud Teologi : Ilmu Kalam, ilmu tauhid, ilmu ushuluddin atau ilmu aqaid . Syech Muhammad Abduh mendefinisikan bahwa “Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid” ialah, ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh ada pada-Nya dan sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada-Nya[1]
  • Menurut A. Hanafi, sebab utama dinamakan “Ilmu Kalam” adalah karena dasar dalil yang digunakan semata-mata dalil akal pikiran, dan dalil naqal (al-qur’an dan hadis) baru dipakai sesudah mereka menetapkan kebenaran persoalan dari segi akal pikiran.[2]

KAJIAN TEOLOGI

Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama. Teologi dapat dipelajari sekadar untuk menolong sang teolog untuk lebih memahami tradisi keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, atau untuk menolong membuat perbandingan antara berbagai tradisi atau dengan maksud untuk melestarikan atau memperbarui suatu tradisi tertentu, atau untuk menolong penyebaran suatu tradisi, atau menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau kebutuhan masa kini, atau untuk berbagai alasan lainnya.
1. Manusia bertanya

Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya, manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya.  Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama

2.  Manusia berfilsafat

Tetapi sudah sejak awal sejarah ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu.  Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan.  Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis,  sistematis dan  koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.

3.  Manusia berteologi

Teologi adalah: pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman.   Secara sederhana, iman dapat didefinisikan sebagai sikap manusia dihadapan Allah, Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam semesta ini.  Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi dapat juga melalui usaha sendiri, misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemberi hidup itu. Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga


ALIRAN-ALIRAN

    1. Teisme : Aliran yang mempunyai keyakinan bahwa Tuhan itu ada, Eksistensi dan Esensi-Nya jelas, tereflesikan dalam hidup dan sistem kehidupan alam semesta ini
    2. Diagnosisme : Aliran yang masih meragukan keberadaan ada tidaknya Tuhan
    3. Panteisme : Aliran yang berkeyakinan Tuhan lebih dari satu, dalam hal ini merekapun menyembah Dewa sebagai Tuhan
    4. Ateisme : Aliran yang menolak adanya Tuhan, mereka menafikan keberdaan Tuhan dalam hidupnya

Aliran Teologi Islam, perbincangan tentang Anthropomorphisme
  • Yang dimaksud “Anthropomorphisme” yang dalam teologi dikenal dengan istilah : Tasybih, musyabihat, tajsim, mujasimah atau aliran shifatiyah, ialah suatu faham atau aliran yang mengakui bahwa, Tuhan mempunyai jisim atau sifat yang sama dengan sifat jasmani pada manusia (mahluk-Nya). Dari faham yang demikian, akhirnya melibatkan perbincangan yang cukup serius di kalangan aliran-aliran besar dalam teologi Islam, seperti : Golongan Syi’ah, Jabariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, aliran Salaf dan lain sebagainya.
  • Terjadinya corak perbedaan pendapat di kalangan  aliran-aliran dalam teologi Islam tentang “Anthropomorphisme” adalah lebih di sebabkan adanya perbedaan cara pandang dalam memahami nash-nash al-Qur’an maupun al-Hadis terutama yang berhubungan dengan masalah “Anthropomorphisme” . Dimana satu sisi dengan memegangi arti lakhir nash secara leterlak tanpa menggunakan adanya bentuk interpretasi apapun. Sedangkan disisi lain  tetap berpegang pada dalil-dalil nash yang harus diberi arti majazi dengan takwil dan interpretasi .
  • Akibat poin kedua  sebagaimana tersebut diatas menyebabkan beberapa aliran seperti : Jabariyah meniadakan sama sekali sifat-sifat yang ada pada Tuhan, karena bisa menjerumuskan kedalam faham tajasum atau tasybih (menyerupakan) Tuhan dengan mahluk-Nya. Mu’tazilah tetap mengakui adanya sifat-sifat Tuhan yang harus di takwilkan atau diberi interpretasi, sehingga tidak terjerumus pada faham tajasum. Senada dengan Mu’tazilah, Asyi’ariyah dan Maturidiyah juga menggunakan takwil dan interpretasi dalam memahami nash-nash al-Qur’an maupun al-Hadis terutama yang berkaiatan dengan sifat-sifat jasmaniah pada Tuhan, namun mereka lebih hati-hati dan mengambil jalan tengah dalam menentukan sikap pendapatnya. Demikian pula yang difahami oleh aliran Salaf dan Wahabiyah, yang  dalam menetapkan sifat-sifat tajasum pada Tuhan dengan  berpegang teguh pada arti dhakhir ayat, sehingga mereka mempunyai dua keyakinan yakni, secara  Ta’thil (peniadaan sifat Tuhan) sama sekali, dan dengan Tasybih (menyerupakan Tuhan dengan mahluk-Nya).

Syi’ah
Syi’ah yang berarti, pengikut partai, kelompok, perkumpulan, partisipan atau pendukung , yang dimaksud adalah suatu golongan atau pengikut setia yang fanatik kepada Ali dan keturunannya. Yang mana dalam sejarahnya, golongan ini pecah menjadi tiga golongan besar, yakni : Syi’ah Zaidiyah, Syi’ah Imamiah atau Istna ‘Asyriyah dan Syi’ah Ismailiyah. Dari ketiga golongan ini yang berpendapat lebih moderat ialah Golongan Syi’ah Zaidiyah. Ia tidaklah membenarkan tentang pengakuan adanya sifat yang berlebihan yang diberikan kepada Ali ra., sebagaimana pendapat Syi’ah Ismailiyah yang mengatakan bahwa Ali hingga kini masih hidup, bukan terbunuh. Sebab Ali telah dikaruniai sifat-sifat ke-Tuhanan yang tak akan pernah mati, bahkan dianggapnya sebagai Tuhan . Anggapan  Syi’ah lainnya mengatakan bahwa roh itu dapat berpindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Dan Allah itu berjisim serta dapat menjelma kedalam tubuh manusia . Dari pendapat ini nampaknya Syi’ah dalam hal anthropomorphisme sangat dekat dengan pengaruh Hindhu, sedangkan mensifatkan Ali dengan sifat ke-Tuhanan sangatlah dekat dengan faham agama Masehi.

Jabariyah
Aliran Jabariyah yang disebut juga sebagai aliran Jahamiyah, karena dibangun oleh Jaham bin Sofwan, memiliki ajaran pokok bahwa, manusia dalam melakukan perbuatannya adalah dalam keadaan terpaksa, artinya mereka tidak mempunyai kebebasan menentukan kehendak, sebab yang ada hanyalah kehendak mutlak Tuhan. Dari faham yang demikian ini menjadikan faham Jabariyah sering dilawankan dengan faham Qadariyah.

Adapun faham anthropomorphismenya terutama yang berhubungan dengan sifat Tuhan, aliran Jabariyah berpendapat bahwa, Tuhan tidaklah mempunyai sifat, tetapi hanya mempunyai Zat. Tuhan tidak layak disifati dengan sifat mahluk-Nya, sebab yang demikian berarti mentasybihkan (menyerupakan) Tuhan dengan mahluk-Nya. Fahamnya mengenai kalam Tuhan (al-Qur’an), Jaham berpendapat bahwa, al-Qur’an adalah mahluk yang dibuat sebagai suatu yang baru (hadis). Adapun fahamnya tentang melihat Tuhan, Jaham berpendapat bahwa, Tuhan sekali-kali tidak mungkin dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Dan tentang keberadaan syurga-neraka, setelah manusia mendapatkan balasan di dalamnya, akhirnya lenyaplah syurga dan neraka itu. Dari pandangan ini nampaknya Jaham dengan tegas mengatakan bahwa, syurga dan neraka adalah suatu tempat yang tidak kekal.

Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah dibentuk oleh Washil bin ‘Atha’ (80-131H/ 699-748 M). Dinamakan Mu’tazilah karena Washil bin ‘Atha’ telah memisahkan diri dari kelompok gurunya yakni Hasan al-Basri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Hasan al-Basri sendiri : ”I’tazala ‘Anna Washil”, (Washil telah memisahkan diri). Sehingga secara etimologi Mu’tazilah dapat diartikan sebagai golongan yang memisahkan diri dari gurunya, karena perbedaan faham dalam sesuatu hal. Kecuali Washil bin ‘Atha’, tokoh Mu’tazilah terkenal lainnya ialah ; Al’Alaf, An-Nazzham, Al-Jubbai, Bisyr bin Al-Mu’tamir, Al-Chayyat, Al-Qadhi Abdul abbar dan Az-Zamaikhsyari. Mereka hampir sama dalam  menyandarkan pendapatnya, yakni menggunakan pemikiran bercorak rasional. Ajaran pokok Mu’tazilah berkisar pada lima prinsip, diantaranya : Tentang keesaan Tuhan (al-Tauhid ), keadilan (al- ‘Adlu), janji dan ancaman (al-Wa’du wa al-wa’idu), tempat diantara dua tempat (al-Manzilatu baina  al-manzilataini) dan amar ma’ruf nahi munkar.

Adapun pandangan Mu’tazilah terhadap faham Mujassimah (anthropomorphisme), mereka menolak dengan keras.  Mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang mensifati Tuhan dengan sifat-sifat manusia, seperti : Yadullah (tangan Allah), Kalamullah (perkataan Allah), dan sebagainya, haruslah ditakwilkan secara majazi (metafora atau kiasan). Mu’tazilah juga menolak konsep dualisme dan trinitas tentang Tuhan sebagaimana kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Masehi, bahwa al-Masih anak Tuhan yang dilakhirkan dari Tuhan sebagai bapak sebelum masa dan jauharnya juga sama ]. Selanjutnya Mu’tazilah berpendapat, bahwa al-Qur’an yang disebut dalam kalam atau sabda Tuhan yang tersusun dari huruf dan suara adalah makhluk yang dijadikan oleh Tuhan. Kalamullah tersebut tidak ada pada Zat Tuhan, melainkan berada di luar diri-Nya. Mu’tazilah tidak mengakui adanya sifat-sifat Tuhan sebagi suatu yang qadim, juga mengingkari adanya faham bahwa, Tuhan nanti dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala di akhirat kelak ]Alasan Mu’tazilah  dalam masalah melihat Tuhan ini nampaknya cukuplah rasional, dimana Tuhan adalah bersifat Immateri, sedang mata kepala adalah bersifat materi. Sehingga tidaklah mungkin suatu  yang immateri dapat dilihat dengan suatu yang materi.

Al-Asy’ariyah
Pembangun aliran al-Asyi’aryah adalah, Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail al-Asyi’ary, yang lakhir di Basrah (Iraq) tahun 260 H/ 873 M, dan wafat tahun 324 H/935 M [27]. Sewaktu kecil hingga berumur 40- tahun, al-Asyi’ary sempat berguru pada seorang tokoh Mu’tazilah terkenal yaitu Abu Ali al-Jubbai Muhammad ibn Abdul Wahhab, bahkan  sebagai penganut faham Mu’tazilah yang  berpendapat bahwa al-Qur’an adalah mahluk, Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala, manusia itu sendiri yang menciptakan pekerjaan dan keburukan dan lain-lain. Namun pada akhirnya al-Asyi’ary keluar dan tidak puas terhadap faham Mu’tazilah yang dianut oleh gurunya tersebut. Kemudian mendirikan aliran tersendiri yang dikenal dengan aliran “al-Asyi’aryah“, yang menurut Ali ibn Iwaji memasukkannya ke dalam kelompok  “Ahlu al Sunnah  wa al-Jamaah“, hal itu didasarkan pada catatan yang ada dalam kitab al-Asyi’ary yaitu dalam “Al-Ibanat an ‘Ushul al Diyanah“. Kitab tersebut berisi tentang penjelasan soal-soal pokok agama yakni tentang kepercayaan (akidah) ahlu al-sunnah wa al-jamaah, dan berisi kritik atau penyerangan terhadap aliran Mu’tazilah.

Dimasukkannya al-Asyi’ary ke dalam faham Ahlu al-Sunnah Wa al-Jamaah, karena memiliki konsep jalan tengah sebagai seorang pendamai terhadap dua pandangan ekstrim (antara ahlu al-Hadis dengan ahlu al-Ra’yi) yang berkembang dalam masyarakat muslim waktu itu.
Adapun pandangan Al-Asyi’aruyah dalam hal Anthropomorphisme diantaranya meliputi :
Tentang Melihat Tuhan ( Ru’yah Allah )
Dalam masalah melihat Allah, al-Asyi’ary berpendapat bahwa Allah Swt. Dapat dilihat oleh hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat kelak seperti halnya mereka melihat bulan purnama. al-Asyi’ary berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada (maujud) memungkinkan untuk dapat dilihat, karena Allah adalah sesuatu yang maujud maka sah untuk dilihat (sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Qiyamah (75) : 22).

Tentang Sifat-Sifdat Tuhan
Pendapat al-Asyi’ary dalam masalah sifat Tuhan  adalah terletak ditengah-tengah antara aliran Mu’tazilah dan Mujassimah. Dimana Mu’tazilah tidak mengakui adanya sifat-sifat Tuhan, seperti wujud, qidam, baqa’, wahdaniyah, dan sifat Zat yang lain seperti : sama’, bashar dan yang lainnya, kesemuanya itu tidak lain hanya Zat Tuhan sendiri. Sedangkan aliran Mujassimah mempersamakan sifat-sifat Tuhan tersebut dengan sifat yang ada pada mahluk-Nya. Al-Asyi’ary dalam hal ini mengakui adanya sifat-sifat Tuhan tersebut yang sesuai dengan Zat Tuhan itu sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sifat-sifat mahluk-Nya, seperti Tuhan mendengar, tetapi tidak seperti kita mendengar dan seterusnya.

Jadi mengenai sifat-sifat Tuhan, al-Asyi’ary secara garis besar berpendapat bahwa, sifat-sifat itu adalah qadim sebagaimana Zat yang disifatkan. Maka Allah berkata itupun dengan kalam-Nya yang qadim, berkehendak dengan iradah-Nya juga yang qadim pula dan seterusnya.

Tentang Tasybih dan Tajsim ( Penyerupaan dan Personifikasi )
Al-Asyi’ary sangatlah hati-hati terhadap masalah tasybih (penyerupaan dengan mahluk), hal ini dapat dilihat pernyataan al-Asyi’ari dalam kitab “al- Luma’ “ sebagaimana dikutip oleh H.M. Laily Mansur : “Ketika engkau menyatakan bahwa Tuhan tidak menyerupai seluruh mahluk, maka katakanlah  bahwa sekiranya Tuhan menyerupai nmya, tentulah hukumnya sama dengan hukum hadis (yang baru), jika diserupakan, maka tidak terlepas dari keseluruhan atau sebagiannya. Jika keseluruhan, maka keadaannya sama dengan hadis keseluruhan, dan jika sebagian, maka keadaannya serupa untuk sebagian dengan yang hadis (baharu), yang demikian itu semuanya mustahil bagi Zat yang Qadim. Dengan demikian al-Asyi’ary dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan adalah tanpa melalui ta’wil maupun tasybih.

Tentang al-Qur’an Bukan Mahluk
Telah dikemukakan di atas, al-Asyi’ary pernah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah mahluk, kemudian ia mencabut pendapatnya itu dengan penuh penyesalan, akhirnya ia menyatakan bahwa kalam Allah itu adalah bukan mahluk. Menurutnya kalam Allah itu Esa dan Qadim, adapun mengenai perintah dan larangan, wa’id dan sebagainya merupakan i’tibar-i’tibar dalam kalam-Nya dan bukan merupakan jumlah berbilang di dalam kalam itu sendiri.

Dari keterangan ini al-Asyi’ary melihat bahwa, kalam Allah itu ada dua bentuk, yaitu : sesuatu yang merupakan sifat Tuhan dan itulah yang qadim. Dan yang kedua adalah lafadz yang menunjuk atas kalam yang qadim tersebut, dan itulah yang hadis dan bersifat mahluk.

al-Maturidiyah
Aliran al-Maturidiyah adalah salah satu aliran dalam teologi Islam yang tergolong kelompok ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah. Aliran ini muncul pada awal abad IV H. Aliran al-Maturidiyah disandarkan pada nama pendirinya, yaitu Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Maturidy, yang lakhir di Maturid, yakni sebuah kota kecil di Samarkand Uzbekistan, dan tahun kelakhirannya tidak banyak diketahui. Al-Maturidy wafat sekitar tahun 332 / 333 H.
Aliran al-Maturidiyah juga bernaung di bawah faham ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah bersama dengan aliran al-Asyi’ariyah. Kedua aliran ini hadir kemedan percaturan teologi, karena reaksinya terhadap aliran Mu’tazilah .  Dan dalam perkembangannya aliran al-Maturidiyah pecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Samarkand di bawah pimpinan Abu Mansur al-Maturidy sedang kelompok Bukhara di bawah pimpinan al-Bazdawy.

Perbedaan prinsip tentang masalah teologi, kelompok al-Maturiduyah Samarkand agak lebih rasional dan lebih dekat kepada al-Asyi’ariyah, dibandingkan dengan kelompok al-Maturidiyah Bukhara
Adapun pokok-pokok ajaran al-Maturidiyah, khususnya dalam hal anthropomorphisme meliputi hal sebagai berikut :

Tentang Sifat – Sifat Tuhan
Dalam masalah sifat-sifat Tuhan al-Maturidy sependapat dengan al-Asyi’ariy, bahwa Tuhan mempunyai sifat, namun bukan sebagai Zat Tuhan, tetapi juga tidak lain dari Tuhan. Sebagai misal, jika dikatakan Tuhan maha mengetahui, maka buykanlah dengan Zat-Nya, akan tetapi mengetahui dengan pengetahuan-Nya.
Dengan demikian , semua sifat-sifat Tuhan seperti sama’, bashar, ilmu dan seterusnya memang terdapat pada Tuhan , akan tetapi bukanlah sifat-sifat itu berdiri sendiri, sebab sifat dan Zat Tuhan adalah suatu hal yang terpisah.

Tentang Melihat Tuhan
Al-Maturidy sependapat dengan al-Asyi’ary, bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di aherat kelak. Bagi al-Maturidy yang tidak dapat dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, yang mempunyai wujud mesti dapat dilihat. Tuhan adalah berwujud, oleh karena itu dapat dilihat.
Pandangan ini didasarkan pada al-Qur’an surat : al-Qiyamah ( 75 ) ayat : 22-23 yang berbunyi :
ُوجُÙˆْÙ‡ٌ ÙŠَÙˆْÙ…َئِـذ Ù†َا ظِرَØ© – اِÙ„َÙ‰ رَبِّÙ‡َا Ù†َا ظِرَØ©ٌ
Artinya : “ Wajah-wajah ( orang –orang mukmin ) pada hari itu berseri-seri . Kepada Tuhanyalah mereka melihat”.

Tentang Keyakinan Mengetahui Tuhan
Al-Maturidy berpendapat bahwa iman mesti lebih dari sekedar tasdiq, karena baginya akal dapat sampai kepada kewajiban mengetahui Tuhan. Al-Maturidy juga berpendapat bahwa mengetahi Tuhan tidak harus dengan bertanya, bagaimana bentuknya. Ma’rifah adalah mengetahui Tuhan dengan sifat-Nya, dan tauhid adalah mengenal Tuhan dengan ke-Esaan-Nya.
Jadi al-Maturidy dalam hal mengetahui Tuhan, dapatlah dicapai melalui pengetauan akal dengan cara  mengetahui sifat-sifat yang ada pada Tuhan.

Tentang Kejisiman Tuhan (Anthropomorphisme)
Tentang  kejisiman Tuhan ini, al-Maturidy tidaklah sependapat dengan al-Asyi’ary, yang mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan itu mempunyai bentuk jasmani tidak dapat diberi interpretasi atau takwil, sebagaimana pendapat Mu’tazilah. Namun al-Maturidy berpendapat bahwa Tuhan  sama sekali tidak mempunyai badan dan jasmani. al-Maturidy menambahkan bahwa, tenaga, wajah, dan sebagainya mesti di beri arti majazi atau kiasan , seperti tangan Tuhan harus ditakwilkan dengan kekuasaan Tuhan.
Dari pandangan ini terlihat bahwa dalam aspek  pemikiran tertentu al-Maturidy sependapat dengan Mu’tazilah, terutama pada masalah-masalah yang banyak menggunakan rasio.

Salaf
Aliran Salaf muncul sekitar abad ke-IV Hijriyah, dimana para pengikutnya selalu mempertalikan diri dengan pendapat Imam Ahmad ibn Hambal, sehingga aliran salaf ini sering disebut sebagai golongan “Hanabilah“
Pada abad ke- VII Hijriyah, aliran salaf mendapatkan kekuatan baru atas masuknya Ibnu Taimiyah (Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyah) lakhir di Harran (Iraq) tahun 661 H. dan wafat sekitar tahun 728 H. di Damsyik (Syiria). Faham salaf berkembang dengan pesat pada abad ke XII H. setelah masuknya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang mendapat dukungan penuh dari raja Saudi Arabia ketika itu, yakni Muhammad ibn Sa’ud, yang akhirnya aliran tersebut terkenal dengan nama “aliran Wahabiyah”.  Sesungguhnya aliran Wahabiyah adalah merupakan kelanjutan dari aliran Salaf yang telah dibangun oleh Ibn Taimiyah beserta pengikut-pengikutnya yang sangat berpegang teguh pada pendapat Imam Ahmad ibn Hambal, baik dalam lapangan fiqih, maupun dalam lapangan teologi. Mereka juga menamakan diri  sebagai “muhjis sunnah“ (pembangun atau penghidup sunnah). Sistem pemikiran yang digunakan adalah tidak percaya kepada metode logika rasional yang dianggap asing bagi Islam, karena metode ini tidak pernah terdapat pada masa sahabat maupun pada masa tabi’in. Jadi jalan untuk mengetahui akidah dengan dalil-dalil pembuktiannya, haruslah dikembalikan  kepada sumber murninya, yakni al-Qur’an dan al-Sunnah, tanpa embel-embel interpretasi apapun dengan memegangi arti  lakhir atau dengan tafsiran indrawi (sensible interpretation) secara leterlek.

Adapun aliran Wahabiyah dalam mendukung penyiaran faham ini adalah dengan jalan kekerasan dan memandang orang yang tidak mengikuti ajaran-ajarannya dianggap sebagai orang “bid’ah” yang harus diperangi sesuai dengan prinsip “amar ma’ruf nahi munkar”.
Adapun pendapat aliran salaf tentang persoalan sifat-sifat Tuhan, kemahlukan al-Qur’an, penyerupaan (tasybih) Tuhan dengan manusia, kesemua ini digolongkan hanya menjadi satu persoalan, yakni tentang “Ketauhidan” (keesaan) yang mencakup tiga segi, diantaranya :

Tentang Keesaan Zat Tuhan
Aliran Salaf telah memandang sesat terhadap golongan filosof, aliran Mu’tazilah dan golongan tasawuf, karena mereka mempercayai adanya persatuan diri dengan Tuhan ( ittihad ) atau peleburan diri pada Zat Tuhan ( fana’).
  
Tentang Keesaan Sifat Tuhan
Aliran Salaf dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan, nama-nama atau perbuatan Tuhan yang termuat dalam al-Qur’an dan al-Hadis, seperti : al-Hayyu (yang hidup), al-Qayyum (yang tidak membutuhkan yang lain), al-Shamadu (yang dibutuhkan oleh yang lain), Zul ‘Arsy al-Majid (yang mempunyai arsy yang megah), Tuhan turun kepada manusia dalam gumpalan awan (baca al-Baqarah : 210), Tuhan bertempat di langit (baca QS. Fushilat : 11), Tuhan mempunyai muka (baca QS. Al-Baqarah : 115), Tuhan mempunyai tangan (baca QS. Ali Imran : 73) dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut dipercaya oleh aliran Salaf dengan memegangi arti lakhir semata, meskipun dengan pengertian bahwa sifat-sifat tersebut  hakekatnya tidak sama dengan sifat-sifat mahluk. Seperti mereka mengatakan bahwa tangan Tuhan, adalah tidak dimaksudkan sebagaimana  tangan yang ada pada manusia, begitu seterusnya.
Jadi dengan perkataan lain,  bahwa aliran Salaf sesungguhnya dalam masalah faham anthropomorphisme, adalah berada diantara “ta’thil” (peniadaan sifat Tuhan sama sekali) dengan “tasybih” (penyerupaan Tuhan dengan mahluk-Nya).

Jumat, 16 Maret 2012

SEJARAH DAN PENGERTIAN MULTIMEDIA


Istilah multimedia berasal dari teater, bukan computer. Pertunjukan yang memanfaatkan lebih dari satu medium seringkali disebut pertunjukan multimedia. Pertunjukan multimedia mencakup monitor ideo, synthesized band, dan karya seni manusia sebagai bagian dari pertunjukan. System multimedia dimulai pada akhir 1980-an dengan diperkenalkannya Hypercard oleh Apple pada tahun 1987, dan pengumuman oleh IBM pada tahun 1989 mengenai perangkat lunak Audio Visual Connection (AVC) dan video adhapter card bagi PS/2. Sejak permulaan tersebut, hampir setiap pemasok perangkat keras dan lunak melompat ke multimedia. Pada tahun 1994, diperkenalkan ada lebih dari 700 produk dan sistem multimedia di pasaran. Multimedia memungkinkan pemakai computer untuk mendapatkan output dalam bentuk yang lebih kaya daripada media table dan grafik konvensional. Pemakai dapat melihat gambar tiga dimensi, foto, video bergerak, atau animasi, dan mendengar suara stero, perekaman suara atau musik. Para pendukung multimedia menyatakan bahwa jika media berbagai inderaa ini di kombinasikan efek yang dihasilkan melebihi penjumlahan bagian-bagiannya. Walaupun sebagian besar perhatian  pada multimedia berfokus, berkaitan dengan output komputer. Beberapa  sistem  multimedia bersifat interaktif, memungkinkan pemakai memilih output dengan mouse atau kemampuan layar sentuh mendapatkan dan menjalankan aplikasi itu. Multimedia digunakan sebagai alat untuk bersaing antara lain untuk mengiklankan sepatu, pakaian, kosmetik, gaya rambut, obat-obatan, mobil, computer, asuransi, softdrink, televise, handphone, kulkas, perbankan, telepon, dan sebagainya. Bahkan ada produk yang tidak berkaitan dengan multimedia, memakainya untuk menarik perhatian.
Definisi multimedia
Panduan untuk menguasai multimedia harus dimulai dengan definisi multimedia. Dalam industri elektronika, multimedia adalah kombinasi dari computer dan video(Roch,1996) atau multimedia secara umum merupakan kombinasi tiga elemen, yaitu suara, gambar dan teks (McCormick, 1996) atau multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data, media ini dapat audio (suara, music), animasi, video, teks, grafikgambar (Turban dkk, 2002) atau multimedia merupakan alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi dan gambar video (Robin dan Linda, 2001) dan
Definisi lain dari multimedia, yaitu dengan menempatkannya dalam konteks, seperti yang dilakukan oleh Hofstetter (2001), multimedia adalah pemanfaatan computer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan nafigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi. Dalam definisi ini terkandung empat komponen penting multimedia. Pertama, harus ada computer yang mengkoordinasikan apa yang dilihat dan didengar, yang berinteraksi dengan kita, kedua harus ada link yang menghubungkan kita dengan informasi, ketiga harus ada alat navigasi yang memandu kita, menjelajah jaringan informasi yang saling terhubung, keempat, multimedia menyediakan tempat kepada kita untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan informasi dan ide kita sendiri. Jika salah satu komponen tidak ada, maka bukan multimedia dalam arti yang luas namanya. Misalnya kalau tidak ada alat navigasi yang memungkinkan kita memilih jalannya suatu tindakan maka itu namanya film, bukan multimedia. Demikian juga jika kita tidak mempunya ruan untuk berkreasi dan menyumbangkan ide sendiri, maka namanya televise, bukan multimedia. Dari beberapa definisi diatas, maka multimedia adal yang online(internet) dan multimedia ada yang offline(tradisional).

Rabu, 15 Februari 2012

ARTI FAM ATAU MARGA KELUARGA MINAHASA (Sulawesi Utara)



~ A ~
Angkouw : Keemasan
Agou : Anoa
Akai : Penjaga
Abutan : Pembersih
Andu : Tempat bersenang
Anis : Penghalau
Antou : Nama kembang
Anes : Tawakal
Alui : Pelipur Lara
Amoi : Teman sekerja
Awondatu : Yang dikehendaki
Assah : Pembuka Jalan
Awui : Senang
Arina : Tiang tengah rumah
Aling : Pembawa
Aruperes : Teladan
Adam : Tenang



~ B ~
Bororing : Pembuat Roreng
Bolang : Penangkap Ikan
Batas : Pemutus
Bolung : Perisai
Buyung : Penurut
Bororing : Pembuat Roreng
Bella : Pasukan
Bokau : Bibit Emas
Bokong : Mengikat
Boyoh : Pendamai



~ D ~
Dengah : Hakim
Dien : Dihiasi
Datu : Pemimpin
Dumbi : Didepan
Dendeng : Suara yg Tenang
Dededaka : Panah lidi hitam
Doringin : Penari
Damopoli : Jujur dan Adil
Dimpudus : Cerdik Kepalanya
Dondokambei : Prinsip Tetap
Dayoh : Karunia
Dipan : Ukuran Depa
Donsu : Jimat Penolak
Damongilala : Benteng
Doodo : Pengerak
Dusaw : Pembuka
Dungus : Berkedudukan
Dumanauw : Pemenang
Dotulung : Pahlawan Besar
Datumbanua : Kepala Walak
Dompis : Pekerja Baik
Dumais : Mengenapi
Dondo : Prinsip
Dewat : Menyeberangi
Dapu : Mematahkan



~ E ~
Eman : Dipergaya
Ekel : Lirikan
Egam : Menjaga
Emor : Lengkap
Egetan : Lonceng Kecil
Elean : Arah Barat
Endei : Dekat
Engka : Pegang
Ering : Kurang Besar
Enoch : Pilihan



~ G ~
Ganda : Bambu besar
Gerungan : Bunga2 Ukiran
Gigir : Mengikis Rata
Girot : Pemutus
Gimon : Rupah yg Indah
Goni : Cerdik
Gonta : Langkah
Gosal : Timbunan
Goniwala : Cerdik Akal
Gumalag : Menanduk
Gumion : Pegangan
Gumansing : Pembujuk
Gerung : Bunga Ukiran



~ I ~
Ilat : Menunggu
Ingkiriwang : Dari angkasa
Intama : Pembawa
Item : Hitam
Inarai : Baju Jimat I
mbar : Yang Dibuang
Inolatan : Pegang Tangan



~ K ~
Kaunang : Cerdik
Kambey : Bunga Hias
Kolibu : Banyak Bekerja
Kaeng : Sempit
Kopalit : Pendamai
Komaling : Pembawa
Koropitan : Penghukum
Kumaunang : Penyelidik cerdik
Korengkeng : Penakluk
Kotambunan : Penimbun
Kumaat : Melihat
Kumayas : Membongkar
Kusoi : Cerdik Dan Sehat
Kaendo : Teman Mapalus
Kaat : Penglihatan
Kainde : Ditakuti
Kaawoan : Mampu Kerja
Kandio : Amat Kecil Berarti
Kaes : Menyiram
Kalalo : Amat Berani
Kairupan : Kekuatan
Kusen : Penutup
Kaliei : Mempesona
Kalumata : Pedang Perang
Kalangi : Dari Langit
Kamagi : Bunga Hias
Kaloh : Sahabat Setia
Kandou : Bintang pagi
Kalontah : Perisai Kayu
Kamu : Pegang Teguh
Kambong : Obor
Kaligis : Sama Keluarga
Kalesaran : Pusat Segala Usaha
Kapantouw : Pembuat
Kapoh : Pemuja
Kaparang : Pandai Mengukir
Kapoyos : Dukun Pijat
Kupon : Diharapkan
Kirangen : Dimalui
Kapele : Amat Tegas
Karau : Antara
Karundeng : Pengusut
Karinda : Kawan Serumah
Katopo : Keturunan Opo
Kasenda : Kawan Sehidangan
Kontul : Kerja sendiri
Katuuk : Pemegang Rahasia
Kawatu : Pendirian Teguh
Kountud : Kerja Sendiri
Kawulusan : Benteng
Kawengian : Bintang Sore
Kawuwung : Berkelebihan
Kawung : Tersusun Keatas
Kembuan : Sumber
Keincem : Penyimpan Rahasia
Keles : Bayi
Kesek : Penuh Sesak
Kekung : Pedang Perisai
Kelung : Perisai
Kembau : Kurang Kuat
Kere : Testa
Kilapong : Batu Kuat
Kewas : Tumbuhan Obat
Kindangen : Yang Diberkati
Kembal : Agak Lemah
Kodongan : Mengecil
Kiroiyan : Pengembara
Koyansouw : Pengipas
Koleangan : Pemain
Kawilarang : Diatas Terbuka
Kumontoy : Lurus Hati
Kumendong : Pengumpul Tenaga
Kowombon : Tahan Uji
Kenap : Genapkan
Kerap : Seiring
Koloay : Saudara Laki-laki
Kalempou : Mengunjungi
Korouw : Perkasa
Kalitow : Tertinggi
Kepel : Penakluk
Korua : Membagi dua
Kowu : Penempah
Komaling : Penghormat
Kojongian : Penggeleng Kepala
Kulit : Cukup
Kuhu : Menampakkan
Karwur : Subur
Karamoy : Penunjuk
Karuyan : Dikejauhan
Koly : Suka Kerja
Kowulur : Kegunung
Kalempouw : Kawan baik
Kumolontang : Melompat Keliling
Kowaas : Pengemar barang kuno
Korompis : Hasil Kerja yg Baik
Kamasi : Bentuk Gelang
Kondoi : Lurus Kedudukannya
Korah : Suka Panas Matahari
Kalengkongan : Tepat berjatuhan
Khodong : Kecil Tapi Menentukan
Koraah : Suka Panas Matahari



~ L ~
Lantu : Penentu
Laluyan : Melintasi
Lala : Berjalan
Lampus : Tembus
Lalu : Pendesak
Langelo : Menapis
Lampah : Tak Seimbang
Lantang : Berharga
Lanes : Kurang semangat
Laoh : Manis
Langkai : Dihormati
Lasut : Pemikir Cerdas
Lalamentik : Semut Api
Lempou : Kunjungan
Languyu : Tanpa Tujuan
Limbong : Ingat Budi
Lengkoan : Penghalang
Leong : Main
Limbat : Berganti
Lincewas : Tumbuhan obat
Liogu-liogo : Jernih
Liwe : Air Mata
Longdong : Penjaga
Lolong : Bulan
Lalowang : Berlumba
Lombogia : Paras Jernih
Londah / Londa  : Perahu
Lowai : Bayi Laki-laki
Lontaan : Pembuka Jalan
Ludong : Kepala Negeri
Lumangkun : Penyimpan Rahasia
Lumenta : Terbit
Lumintang : Meninggalkan
Lumowa : Meliwati
Lumoindong : Melindungi
Luntungan : Memiliki Jambul
Loing : Pengawas Lompoliu : Pengajar
Liando : Penimbang
Lumi : Meminggir
Limempouw : Melewati
Lesar : Halaman
Lapian : Teladan
Lempas : Kedudukan
Lengkong : Pendidik
Lengkey : Dimuliakan
Lepar : Tujuan
Litow : Tinggi
Lintang : Bunyi-bunyian
Liu : Bijaksana
Lintong : Pusat Persoalan
Loho : Perindu
Lolombulan : Bulan Purnama
Legi : Menipis
Lomboan : Lemparan Keatas
Lonan : Ramah
Londok : Tinggi
Lontoh : Tinggi Keatas
Lutulung : Penolong
Lumanau : Biasa Berenang
Lumatau : Berpengetahuan
Luminuut : Berpeluh
Lumongdong : Berlindung
Lowing : Mengawasi
Lumunon : Muka bercahaya
Losung : Pendesak
Limpele : Penurut
Lewu : Tersendiri
Lumentut : Bukti
Lumingas : Membersihkan
Lensun : Diharapkan
Lego : Penelan Manis Pahit
Lumingkewas : Tepat dalam segala hal
Lembong : Pembalas Budi
Lelengboto : Perhiasan Rambut Kepala
Langitan : Tinggi
Langi : Tinggi



~ M ~
Maengkom : Penakluk
Mentu : Rasa
Makaliwe : Air mata
Mamoto : Penjelasan
Mamanua : Pembuka Negeri
Mamusung : Penangkal
Mambu : Pemberi Rupa
Manarisip : Membetulkan
Mamentu : Pemberi Rasa
Mandagi : Menghiasi Bunga
Motto : Jelas
Manembu : Dewa Peninjau
Muaya : Berani
Masie : Tumbuhan obat
Mussu : Penjaga Setia
Mandey : Pandai
Manampiring : Membuat Jebakan
Manorek : Mengganggu
Manaroinsong : Sumber Air
Manurip : Menyisip
Mangare : Minta Dibujuk
Maramis : Menggenapi
Magempis : Merendahkan diri
Matindas : Ramping
Mangowal : Pamancung
Mawikere : Teladan
Makaoron : Menggulung musuh.
Manalu : Ditingkatkan
Mamarimbing : Pemberi Kesuburan
Mema : Berbuat
Mamesah : Pembuka Rahasia.
Mendur : Berguntur
Mangundap : Berbahaya
Mowilos : Yang Menang
Magindaan : Tahan Uji
Momongan : Pemilik
Manimporok : Kepuncak
Mondigir : Meratakan
Masinambou : Tujuan Pasti
Mongkau : Mencari Emas
Mamuaya : Pemberi Keberanian
Moniung : Menangis kecil
Mamengko : Pemberi Teka Teki
Mononutu : Pekerja tekun
Mewengkang : Pembuka Jalan
Montung : Pengangkat
Mincelungan : Main Perisai
Montong : Pembawah
Mokoagouw : Berani Seperti Anoa
Mumek : Penyelidik
Mondou : Berangkat pagi
Mundung : Bernaung
Mongilala : Pengusir Musuh
Muntu : Gunung
Moningka : Penambah tenaga
Mongula : Pemohon berkat
Mingkid : Pemberi acuan/konsep
Monginsidi : Saksi dan bukti
Manopo : Bersama Datuk ( Opo)
Manangka : Menangkap
Mantiri : Pembuat Benda Halus
Makatuuk : Hidup sentosa
Masengi : Nama tumbuhan obat
Makal : Penutup lobang
Makiolol : Selalu ikut
Mudeng : Berdengung jauh
Mamahit : Dukun obat pahit
Makarawis : Puncak gunung
Mangkey : Angkat Mamantouw : Penubuat
Makangares : Mengharapkan
Muntuan : Kegunung
Maweru : Pembaharu
Musak : Didesak
Makawulur : Dihormati
Makarawung : Tinggi Usaha
Malingkas : Tetap berada
Mawa : Pembawa Damai
Mesak : Pendesak
Mamba : Ditetapkan
Maengkong : Mendidik
Manua : Negeri
Mantouw : Nubuat
Mamangkey : Pengangkat
Makawalang : Orang kaya
Mait : Obat pahit
Manangkod : Menahan musuh
Maindoka : Kecukupan
Mekel : Lindungi
Makadada : Memuaskan
Mandang : Melambung tinggi
Mokodongan : Menelan
Mongkol : Mematung
Momuat : Pengurus jamuan
Muntu untu : Gunung bersusun
Mumu : Simpanan cukup
Mukuan : Mempunyai buku
Mambo : Penetapan
Mondong : Menyembunyikan
Maengkong : Mendidik
Montolalu : Pembagi tugas
Mononimbar : Suka memberi
Moniaga : Kebesaran
Mongkaren : Membongkar
Moninca : Pembuah ramai
Mongi : Kuat kekar
Mondoringin : Meratakan jalan
Maukar : Menjaga
Momor : Persatuan yg baik
Masing : Bergaram
Mokolensang : Berdiam diri
Mokalu : Bersaudara
Minder : Menderu
Mince : Main
Mentang : Pemutus
Mengko : Teka teki
Mende : Pemalu
Marentek : Tukang besi
Manayang : Pergi jauh
Mawei : Pembimbing
Masoko : Pokok
Maringka : Berkekuatan
Mantik : Meneliti/menulis
Mapaliey : Menakuti musuh
Mawuntu : Kedudukan tinggi
Mogot : Penebus
Mamuntu : Mencapai puncak
Mambu : Ketetapan
Mokorimban : Pemberani
Mewoh : Lemah lembut
Manapa : Pertanyaan
Mailoor : Disenangi
Mawicere : Teladan
Makisanti : Dengan Pedang
Manus : Taruhan
Manese : Bertindak dahulu
Mainsouw : Bersaudara sembilan
Mailangkay : Yang ditinggikan
Makalew : Melindungi/Menutup



~ N ~
Nender : Gerakan
Ngion : Diperelok
Nangon : Diangkat
Ngayouw : Dimajukan
Nayoan : Diberi berkat
Nangka : Dingkat
Nangoy : Dipikul
Naray : Jimat
Nelwan : Tempat terbang
Ngala : Dirintangi
Ngangi : Dihati
gantung : Ditimbulkan



~ O ~
Opit : Jepitan
Otay : Bertawakal
Onsu : Jimat
Ogot : Hakimi
Oleng : Pikulan
Oley : Teladan
Ombu : Cetakan rupa
Ogotan : Kena dendam
Ogi : Goyang
Oroh : Perselisihan
Ondang : Pedang
Ompi : Tertutup
Ombeng : Kelebihan



~ P ~
Pantouw : Penolong Bijaksana
Pinaria : Hubungan erat
Pongilatan : Berkilat
Palar : Tapak tangan
Pioh : Cucu
Parengkuan : Kepala Jimat
Palandeng : Penambah
Pitong : Memunggut
Paat : Pengangkat
Pauner : Tengah
Palit : Bekas luka
• Palilingan • : Nasehat baik
Palangiten : Sinar matahari
Poli : Tempat suci
Pangau : Jauh kedalam
Poluakan : Air berkumpul
Pandoy : Pandai
Pomantouw : Penubuat
Piai : Biasa
Ponamon : Pengasih
Pele : Jimat
Poluan : Tempat air
Pelengkahu : Emas tulen
Polii : Pelita
Pepah : Lemah lembut
Pola : Pengajak
Pesik : Pancaran bara
Pangemanan : Dipercaya
Pakasi : Pemberian
Pendang : Pengajar
PIRI : Semua satu
Pratasik : Penyerang
Pinantik : Ditulis
Pitoy : Diikuti
Pinangkaan : Tempat yg tinggi
Pandong : Tenaga kuat
Panda : Pintar
Pandi : Penghancur
Palandi : Penghancur musuh
Payouw : Penunjuk
Palenteng : Peniup
Palenewen : Dibenamkan
Pondaag : Pendamai
Pongayouw : Penghulu perang
Purukan : Punya kedudukan
Pontoh : Pendek
Putong : Penyelidik
Pontororing : Bercahaya
Ponosingon : Terbang
Posumah : Pembagi
Pungus : Pengawas
Pua : Buah
Politon : Gembira selalu
Paruntu : Tempat ketinggian
Panambunan : Timbunan besar
Pangalila : Berlebihan
Pasla : Tepat tujuan
Pinontoan : Menunggu
Pandelaki : Pemegang bibit
Pai : Besar
Pesot : Cekatan
Podung : Dijunjung
Payouw : Yang diberikan
Pongoh : Berisi Padat
Pontoan : Menunggu
Porong : Tudung Kepala
Potu : Tekun
Punuh : Orang terdahulu
Pangkey : Diangkat
Pusung : Penangkal serangan
Parera : Yang dicari
Pontonuwu : Tegas
Porayouw : Perenang
Paseki : Pengikat
Pandey : Pintar
Ponggawa : Pemberani
Pangila : Berlebihan
Pangkerego : Suara Nyaring
Paila : Cukup besar
Porawouw : Penunjukkan
Pioh : Pantas
Polimpong : Didewakan
Pandean : Amat pandai
Paputungan : Tempat membawah api



~ R ~
Rantung : Terapung
Rares : Sehat
Ratag : Terlepas
Ratulangi : Jimat dari langit
Ratuwalangouw : Batu berantai
Rawis : Puncak
Ratuwandang : Batu merah
Rembet : Berpegang teguh
Rengkuan : Ditunduki
Rei : Bebas Celaka
Rembang : Burung rawa
Rimper : Potong rata
Rindo Rindo : Suara gemuruh
Rolos : Kepala
Rampengan : Berkelebihan
Rasu : Penyimpan
Rosok : Tepat
Rooro : Penggerak
Rombot : Dilebihi
Rumincap : Berhati baik
Rompas : Penyimpan Rahasia
Rondonuwu : Bicara lurus
Rori : Dihormati
Rorintulus : Cahaya
Rempas : Memasak
Ratumbanua : Kepala wanua
Roringterok : Pancaran cahaya
Ranti : Pedang
Rogahang : Berkeringat
Raranta : Naik tangga
Rarun : Sudah tua
Ratu : Batu jimat
Ratumbuisang : Batu berbintik
Rau : Jauh
Ratuwalangon : Batupanjang
Rawung : Mudah tinggi
Rengkung : Dihormati
Rengku : Tundukan
Regar : Bebas
Repi : Pemikir
Rindengan : Bergerigi
Rampen : Kelebihan
Rarumangkey : Diangkat penggerak
Retor : Penghalang
Rumangkang : Penjaga negeri
Robot : Lebih
Rincap : Baik hati
Rogi : Banyak bicara
Rompis : Pekerja baik/tekun
Roti : Cantik
Rondo : Lurus
Rolangon : Berantai
Roring : Kemuliaan
Rempas : Memasak
Roringpandey : Sempurna
Rumengan : Sejaman
Ruata : Dewata/yg diatas
Rumpesak : Kedudukan
Raintung : Daun bergerigi
Rumokoy : Membangunkan
Runturambi : Kehormatan
Rumopa : Pengukur tanah
Rambitan : Tambahan bunyi
Runtunuwu : Berkata sopan
Ransun : Bawang
Runtugirot : Pemutus
Rumagit : Menyambar
Runtuwene : Ucapan syukur
Rumayar : Mengibarkan
Runtulalo : Keberanian
Rumampen : Jadi Satu
Rurugala : Pantai putih
Rumbay : Tidak perduli
Ruaw : Bulan purnama
• RUNGKAT/ RUNKAT• : Mendapat kedudukan
Rogian : Pecah
Rumangu : Keberanian
Rambi : Bunyi merdu
Rorong : Pembantu kepala
Rampingaley : Kembar bersih
Rewah : Dari bawah
Ruidengan : Bersama
Rauan : Perantara
Rindengan : Sama-sama
Rambing : Bunyi suara merdu
Rumambi : Membunyikan
Rumampuk : Memutuskan
Rumende : Mendekati
Rumenser : Tetesan air
Rumimpunu : Yang dimuka
Rumondor : Meningkat
Runtu : Ditinggi
Runtukahu : Dipermuliakan
Runtuwarouw : Kehormatan
Ruru : Pantai
Rumbayan : Bermahkota
Rumuat : Persembahan
Rangkang : Penjaga
Raringisan : Perimbangan
Rumate : Yang kuasai



~ S ~
Sigarlaki : Kekayaan
Sampel : Punya tujuan
Sagai : Tamu
Sambiran : Limpahan
Sayow : Potongan
Sanger : Mengutarakan
Sayambati : Bernyala-nyala
Sangian : Agak tinggi
Salaki : Kesuburan
Salainti : Pedang panjang
Sampouw : Ampuni
Sarundayang : Pengiring
Sambouw : Bunga Kayu
Sangkai : Satu paras
Sariowan : Pelancong
Simbawa : Banyak kemauan
Sorongan : Bergeser
Sepang : Cabang jalan
Seko : Sentakan
Sengkey : Pengguling
Sembel : Penuh
Sendoh : Terangkat
Senouw : Cepat
Semet : Amat teliti
Senduk : Senang
Saul : Lengah
Sengke : Guling
Seke : Perorangan
Sigar : Kaya
Saroinsong : Pancuran air
Simbar : Terbuang
Sangkaeng : Paras kecil
Sinaulan : Penasehat
Saraun : Sepintas remaja
Sirang : Potongan
Sayar : Buka jemuran
Sambuaga : Bunga kayu cempaka
Santi : Pedang
Sangeroki : Mengutarakan niat baik
Solang : Pedang
Sangari : Penyayang keluarga
Siwy : Siulan
Sampelan : Tujuan akhir
Somba : Pelindung
Sumampouw : Yang mengampuni
Singal : Perintah musuh
Salangka : Sangkur
Sakul : Penyerang
Sahelangi : Gunung tinggi
Saerang : Keberanian
Sinolungan : Memprakarsai
Singkoh : Dibatasi
Sarapung : Perkasa
Sumeke : Tertawa
Siwu : Penghancur musuh
Sembung : Bunga
Sompotan : Meluputkan
Singal : Perintah musuh
Sualang : Karunia
Sumele : Pembatas
Sompi : Penyimpan rahasia
Sambur : Melimpah
Suak : Kepala
Sondakh : Pengawas
Sumayouw : Pengajak
Soputan : Letusan
Sumanti : Mempergunakan
Suatan : Pengharapan
Sumesei : Pengawas
Sumakud : Menewaskan
Sumendap : Menyinari
Sumakul : Menewaskan
Sumolang : Memainkan pedang
Sumarauw : Pendidik
Solang : Pedang
Sumilat : Mengangkat
Sumual : Memiliki kelebihan
Sumlang : Main pedang
Supit : Menjepit musuh
Sumuan : Mengesahkan
Suwu : Serbu
Suot : Puas
Salendu : Banyak idenya
Surentu : Banyak bicara
Sumaiku : Panjang idenya
Sunda : Tidak menetap
Sumakud : Pengikat
Sumangkud : Terikat
Salangka : Benda persembahan
Samola : Membesar
Sumarandak : Gemerincing
Sambul : Berlimpah
Sungkudon : Buah persembahan

~ T ~
Tilaar : Kerinduan
Tikonuwu : Pandai bicara
Tangkulung : Perisai pelindung
Tampa : Bunga
Taulu : Dijunjung
Tooi : Pengikut
Tawas : Penawar mujarab
Tembouw : Teman
Tendean : Tempat berpijak
Tombokan : Berkelebihan
Tewu : Berani
Torar : Biasa matahari
Tirayoh : Senang dihormati
Tumbelaka : Diberkati
Tidayoh : Senang dihormati
Tumbol : Penopang
Tiendas : Berkurang
Teterego : Panjang
Tampanguma : Bunga mekar
Timbuleng : Pemikul
Tintingon : Melambung
Torek : Berkekurangan
Tompunu : Membuyarkan musuh
Tuyu : Penunjuk
Tular : Penasehat
Tulung : Pandai menolong
Tumatar : Kebiasaan
Tumnegkol : Penahan
Tumilaar : Yang dirindukan
Tuwaidan : Lengkap
Turang : Menopang
Tumurang : Pemberi bibit
Tumangken : Merombak
Tumiwang : Mengingat
Tumilesar : Telentang
Tinangon : Terangkat
Tumuyu : Yang dituju
Tulusan : Menengahi
Tandayu : Senang diangkat
Tambingon : Keliling
Tuera : Perintah
Tuyuwale : Menuju rumah
Tumober : Hadiah
Tunas : Asli
Turangan : Berkelebihan
Tumundo : Pembawa terang
Tumewu : Melenyapkan
Tumbuan : Kaya
Tumanduk : Pelindung
Tulus : Penengah
Tulandi : Pemecah batu
Tuege : Tumpukan
Tongkeles : Percepat
Tololiu : Penghambat
Timpal : Persekutuan
Tampanatu : Bunga api
Tumiwa : Ingatan
Tumbel : Berkat
Tumboinbela : Pegang pasukan
Tompodung : Dijunjung
Tombeng : Secepat angin
Tumimomor : Tempat yg baik
Tumembouw : Berteman
Tumonggor : Disiapkan
Tiwow : Berniat
Toalu : Didepan
Tiwa : Menaiki puncak
Tikoalu : Penakluk
Tindangen : Pemalu
Tengker : Bergemuruh
Tenda : Lemah lembut
Tanos : Teratur
Taroreh : Diangkat
Tangkudung : Perisai pelindung


~ U ~
Umbas : Kuat bersih
Umboh : Penolak bahaya
Undap : Cahaya sinar
Unsulangi : Diatas
Ukus : Kurang gemuk
Untu : Gunung
Ulaan : Ditakuti
Uguy : Pembawa rejeki
Umpel : Menyenangkan


~ W ~
Walian : Dukun
Waha : Bara api
Wariki : Pendidik
Walean : Kompleks rumah
Wagei : Tertarik
Wagiu : Cantik rupawan
Wantasen : Yang menjadi patokan
Wanei : Prajurit
Waani : Pahlawan
Wayong : Menang perang
Wala : Cahaya
Walangitan : Cahaya kilat
Walangare : Cahaya Keluarga
Wantah : Patokan
Warouw : Menghalau
Watak : Berani
Watulingas : Cukup Pandai
Woimbon : Bercahaya
Walelang : Rumah tinggi
Watuna : Bijih Berisi
Wangko : Besar
Warbung : Perlindungan
Walukow : Memabukkan
Welong : Kurang daya
Wenas : Penyembuh
Wawointama : Cita cita tinggi
Wenur : Persembahan
Waluyan : Lewat
Wilar : Pembuka
Wungow : Bicara seenaknya
Winokan : Mencoba
Wuntu : Gunung
Wakari : Teman serumah
Wurarah : Marah
Watupongoh : Teguh
Wola : Cahaya
Waturandang : Batuh merah
Wungkana : Gelang jimat
Wawolumaya : Diatas puncak
Wetik : Berperasaan
Wawolangi : Diketinggian
Wulur : Puncak
Wahon : Moga-moga
Wooy : Hujan rahmat
Wondal : Jimat
Walanda : Cahaya berlalu
Wonte : Kuat teguh
Wuwung : Kelebihan
Worang : Kuat ikatan
Wuisang : Mengusir
Wotulo : Pembersih
Wuisan : Pengusir
Wowor : Obat kesohor
Wowiling : Pendorong
Wangania : Buat sekarang
Worotikan : Pancaran api
Wurangian : Pemarah
Wauran : Cabut pilihan
Wuwungan : Diatas atap rumah
Wongkar : Membangun
Wonok : Peruntuk
Wokas : Penyelidik
Weku : Penasehat
Watung : Timbul terus
Waworuntu : Diatas gunung
Wawoh : Ketinggian
Watuseke : Berani
Winerungan : Menghiasi
Weol : Penasehat
Welong : Pemikul
Warugigir : Batulicin
Wangke : Orang kuat
Walintukan : Taufan
Walewangko : Rumah besar
Waleleng : Rumah tersendiri
Watti : Nubuat
Warokka : Penghalau
Wantania : Patokan tetap
Walangsendouw : Cahaya lewat
Walalangi : Cahaya dari langit
Walandouw : Cahaya siang



I Yayat U Santi!  dan sambutan sorakan Uhuuy!  atau Tentu itu!  bermakna : Marilah kita bersama menghadapi tantangan maut itu dan menanggulanginya demi kehidupan kita dan anak-cucu-cece kita.